Mimbar-Rakyat.com (Jakarta) – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan ada 17 kasus cacar monyet (monkeypox) di Indonesia sejak kali pertama ditemukan pada Agustus 2022.
Staf teknis komunikasi transformasi kesehatan Kemenkes RI Ngabila Salama menyampaikan dari 17 kasus itu, sebanyak 16 pasien merupakan kasus positif aktif alias belum sembuh.
“Kasus positif total 17 orang. Satu kasus Agustus 2022 sembuh,” kata Ngabila dalam keterangannya, Jumat (27/10).
Ngabila menjelaskan 16 pasien positif aktif cacar monyet itu semuanya berjenis kelamin laki-laki dengan rentang usia 25-50 tahun, dan semuanya tertular lewat kontak seksual.
“Kasus positif aktif 16 orang, positivity rate PCR 44 persen, semua bergejala ringan, semua tertular dari kontak seksual,” ujarnya.
“Dua kasus di antaranya domisili luar DKI Jakarta.”
Ngabila mengatakan 16 pasien kasus cacar monyet itu kini tengah menjalani perawatan dan isolasi di rumah sakit, sementara 20 orang lain yang sempat masuk kategori suspek telah dinyatakan negatif berdasar hasil pemeriksaan PCR.
Selain itu, berdasarkan keterangan Ngabila, ada 11 orang yang diduga bergejala cacar monyet, yaitu satu kasus yang ditemukan pada 24 Oktober, dua kasus temuan 25 Oktober, lima kasus temuan 26 Oktober, dan tiga kasus temuan 27 Oktober.
Dia menyampaikan vaksin cacar monyet telah diberikan kepada 251 orang kelompok yang berisiko tinggi.
Cacar monyet sendiri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus Monkeypox. Kasus cacar monyet pada manusia pertama kali ditemukan pada 1970 di Republik Demokratik Kongo.
Pada dasarnya, gejala awal cacar monyet mirip dengan gejala cacar lainnya, yaitu demam, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, ruam, dan lesi.
Perbedaan utama antara keduanya adalah cacar monyet yang menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening.
Gejala ini biasanya muncul dalam 7-14 hari setelah terinfeksi. Namun dalam beberapa kasus, gejala juga bisa muncul 5-21 hari setelah paparan. (ds/sumber CNNIndonesia.com)