Di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) pada Minggu malam atau Senin pagi pukul 01.30 saya disambut seorang perawat. Dipersilakan duduk di depan meja, selembar formulir pun diterima dan diisi seperlunya.
Tak ada kendala. Menjelang selesai mengisi formulir datang pasien lain, sepasang suami istri. Seorang perawat lain melayaninya, si bapaklah yang perlu penanganan, keluhannya BAB bermasalah. Saya setelah diminta penjelasan tambahan lalu diantar ke sebuah bilik dan diminta tiduran dulu di bad merek Paramount. “Sebentar lagi dokter akan memeriksa,” kata perawatan tadi.
Berikutnya dari balik tirai kain saya mendengar ada lagi pasien yang datang, juga suami istri. Dia berada di sebelah bilik saya. Si bapak yang bermasalah, perawat harus bertanya kepada si bapak dengan suara keras, karena si bapak tidak menangkap pertanyaan dengan jelas.
Ada yang datang lagi, saya tak mendengar jelas percakapannya dengan perawat. Dokter pun mendatangi saya, tanya ini dan itu. Dia seperti agak kesal ketika mengetahui keluhan yang saya rasakan sudah terjadi sejak dua atau tiga hari lalu. “Kenapa gak segera ke sini,” katanya.
Dia kemudian menjelaskan setiap pasien yang perlu perawatan diharuskan menjalani swab, termasuk saya. “Mungkin pagi nanti,” katanya.
Beberapa saat hening, namun tiba-tiba terdengar teriakan keras dari seorang wanita. Dia bahkan meraung-raung, meracau. Suasana jadi gaduh, sebelah menyebelah marah, berteriak agar wanita itu diam. Bukannya tenang tapi malah makin riuh.
Petugas pun datang, wanita yang diantar seorang laki-laki dan seorang perempuan itu, ternyata baru saja dicekoki minuman keras entah oleh siapa saat menjelang pagi itu.
Setelah ditangani, dia pun tenang. Bahkan minta surat keterangan dokter untuk tidak masuk kampus, entah kuliah dimana. Namun petugas menolak, karena tak surat keterangan untuk sakit karena minuman keras.
Saya tertidur, entah berapa orang lagi pasien yang datang.
Pagi sudah berlalu, bahkan menjelang siang. Seorang perawat datang ke bilik saya menanyakan soal swab. Saya jawab belum. Dia seperti nya kaget, lalu pergi, beberapa saat kemudian datang lagi membawa kursi roda. Saya dibawa ke ruang khusus, banyak yang antri, tapi setelah perawat tadi menemui petugas swab dia pun mendorong kursi ke ruang khusus itu, mendahului pengantri cukup banyak.
Kembali ke bilik di UGD, Senin siang itu saya dipindahkan ke kamar khusus transit sendiri menunggu hasil swab. Dua malam kemudian, Rabu (27/1), saya dipindahkan lagi ke kamar lain, setelah saya dinyatakan positif terpapar virus Corona. Kali ini sekamar berdua dengan pasien lain yang sama-sama terinfeksi.
Minggu (24/1) selepas Isya napas terasa sesak, dada sebelah kiri nyeri, cekot-cekot. Mau tidur gak bisa, tidak terasa nyaman. Mata tak mau terpejam, sesak nafas membuat tidak bisa terlelap.
Dugaan saya dan istri, jantung saya ada masalah. Kami memutuskan periksa ke rumah sakit tempat saya bisa melakukan kontrol rutin. Nah saya dan anak kami yang mengantar di terima di ruang UGD alias ruang emergency.
Saya dinyatakan positif terinfeksi virus Corona, itu merupakan hasil swab yang dilakukan satu malam setelah saya masuk/ditampung di UGD atau ruang emergensi karena masalah jantung. Kini saya sedang menjalani isolasi di rumah sakit.
Itu hasil yang mengejutkan, karena sebelumnya saya berulang kontrol ke RS sama kondisi saya baik-baik saja.
Kemudian saya coba urut perjalanan saya sebulan terakhir, semua saya anggap aman. Itu karena memang lebih banyak di rumah lketimbang ke luar rumah. Perjalanan rutin setiap hari antara rumah dan masjid, paling jauh ya masih di seputar komplek perumahan kami, cari makanan.
Lalu di mana kira-kira terpapar Covid-19. Dugaan terbesar saya ya di UGD rumah sakit yang saya kunjungi.
Kenapa begitu? Karena ketika saya berada di UGD rumah sakit itu pengunjungnya silih berganti, si sakit dan pengantar berbaur. Sakitnya pun macam-macam, keluhan jantung hingga akibat minuman keras. Pasien silih berganti diistirahatkan di tempat tidur sama, dipindahkan satu masuk yang lainnya.
Kondisi di UGD yang saya alami itu menguatkan dugaan, saya terpapar ketika berada di UGD. Dugaan serupa ternyata muncul dari teman senasib yang sama-sama menjalani isolasi di rumah sakit.
Saya yakin, kondisi yang saya alami di UGD tidak hanya terjadi di tempat saya dirawat, di salah satu rumah sakit di Kota Bekasi, tapi juga hampir di semua rumah sakit favorit atau ramai. Muncul dalam pikiran, kalo tidak sangat mendesak jangan datang ke UGD di masa pandemi ini, datang ke dokter umum dulu. Mudah-mudahan bisa teratasi.
Apa Mungkin Ruang Emergency Rumah Sakit Jadi Ladang Virus Corona?
Ada memang bantahan, tak selalu begitu. Salah seorang perawat di Puskesmas mengatakan, virus Corona kini sulit diduga ada di mana-mana. Bisa di rumah, lingkungan, tempat ibadah, pasar, dan lainnya. Namun dia tak menolak dikatakan virus kemungkinan telah menyebar di ruang emergency rumah-rumah sakit. Pendapat serupa datang dari sejumlah lainnya.
Pikiran lain, apakah Kemenkes, Pusat Penanggulangan Covid-19, atau pihak terkait lainnya, tidak memiliki panduan protokol Covid-19 saat berada di ruang emergency atau UGD? Mudah-mudahan hal tersebut telah terpikirkan. Semoga ancaman Covid-19 segera berlalu.*** (H. Djunaedi Tjunti Agus, wartawan)