Mimbar-Rakyat.com (Jakarta) – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Kedeputian Bidang Logistik dan Peralatan telah mengirimkan bantuan logistik berupa 2 ton beras dan 40 kardus mi instan, bagi para warga terdampak gempabumi berkekuatan magnitudo (M) 6.4 yang mengguncang wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.
Bantuan logistik BNPB, sebagai bentuk upaya Pemerintah Pusat dalam mendukung pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak gempabumi itu telah tiba di Desa Simatalu dan diterima oleh pejabat desa setempat pada Selasa (30/8). Adapun Desa Simatalu menjadi salah satu wilayah yang terdampak gempabumi Senin (29/8) pukul 10.29 WIB, dengan jumlah warga pengungsi paling banyak, termasuk Desa Simalegi.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Mentawai Novriadi, mewakili pemerintah daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai beserta masyarakat mengucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan BNPB.
Bentuk dukungan itu sangat berarti bagi warga terdampak, sebab menurut Novriadi, pasokan kebutuhan permakanan di Desa Simatalu dan Desa Simalegi hanya mencukupi untuk dua hari saja. Sehingga tentunya dukungan dari BNPB tersebut datang tepat pada waktunya.
Lebih lanjut, mengutip bnpb.go.id, Novriadi mengatakan bahwa BNPB selalu menaruh perhatian khusus kepada Kabupaten Kepulauan Mentawai sebagai wilayah dengan zona rawan gempabumi dan tsunami kategori tinggi.
“Terima kasih kami ucapkan kepada BNPB atas dukungan logistik yang telah dikirimkan kepada kami untuk mendukung pemenuhan kebutuhan bagi warga terdampak. BNPB cukup besar perhatiannya kepada Kepulauan Mentawai,” ucap Novriadi melalui program Disaster Briefing yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube BNPB Indonesia, Selasa (30/8).
Berdasarkan perkembangan data, fenomena gempabumi M 6.4 telah memiliki 13 kali gempa susulan dengan kekuatan dari M 3.5 hingga maksimum M 6.4. Rangkaian gempa tersebut terjadi di segmen megathrust Mentawai yang diketahui menyimpan potensi energi gempa hingga M 8.9, dan berpotensi mampu memicu tsunami.
Dampak kerusakan yang dilaporkan atas gempabumi itu meliputi satu gedung SMP N 3 Simalegi rusak ringan, satu unit SDN 11 Simalegi rusak berat, satu gedung Puskesmas Betaet rusak ringan, satu gereja rusak ringan, satu gedung aula kantor camat Siberut Barat rusak ringan dan lainnya masih dalam pendataan.
Guncangan gempabumi yang dirasakan cukup kuat di Pulau Siberut itu juga telah memaksa 2.326 warga mengungsi ke perbukitan. Penambahan jumlah pengungsi tersebut dipicu adanya kekhawatiran masyarakat apabila terjadi gempabumi susulan yang dapat berpotensi tsunami. Belum ada laporan mengenai korban jiwa dan situasi serta kondisi cukup aman terkendali.
Pantai Cilacap Porak-Poranda
Sementara itu kawasan obyek wisata di sepanjang garis pantai Kabupaten Cilacap porak-poranda setelah diterjang gelombang pasang air laut pada Selasa (30/8) siang. Pantauan visual di lapangan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, sejumlah aset milik pedagang seperti kios, warung dan kedai-kedai di kawasan wisata pantai itu mengalami kerusakan hingga terseret arus pasang air laut.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap Wijonardi meneruskan peringatan dini dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa kondisi gelombang pasang masih berpotensi terjadi hingga esok hari dengan estimasi tinggi gelombang hingga 4 sampai 6 meter.
“Situasi dan kondisi sepanjang pantai Cilacap mulai dari Areal 70 Pantai Teluk Penyu hingga Jetis saat ini sampai besok menurut prakiraan BMKG lagi tidak bersahabat dengan potensi gelombang antara 4 sampai 6 meter,” ujar Wijonardi.
Atas fenomena itu, pihaknya telah mengeluarkan imbauan peringatan dini melalui menara pengeras suara di Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung BMKG Cilacap kepada masyarakat.
Selain imbauan melalui menara pengeras suara, pihak Unit Pelayanan Teknis (UPT) BPBD Kota dan Kecamatan Kroya juga turun ke lapangan untuk memberikan imbauan secara langsung kepada masyarakat.
“Petugas UPT Kota dan Kroya telah melakukan pemantauan dan mengimbau agar masyarakat menjauh dan mengurangi aktivitas di pantai,” kata Wijonardi.
BPBD Kabupaten Cilacap juga segera berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk melakukan siaga kedaruratan untuk mengantisipasi adanya potensi yang lebih buruk.
Hingga siaran pers dari BNPB ini diturunkan, belum ada laporan mengenai korban jiwa. Kerugian materiil dalam pendataan lebih lanjut. Tim gabungan menersukan patroli monitoring kondisi terkini terkait fenomena gelombang pasang. Kondisi sejauh ini masih aman terkendali.
Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung BMKG Cilacap juga menyatakan bahwa gelombang tinggi hingga 6 meter berpotensi terjadi di sepanjang garis pantai selatan Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Barat. Adapun rinciannya meliputi perairan Sukabumi-Cianjur, Garut-Pangandaran, Samudera Hindia selatan Jawa Barat, perairan Kebumen-Purworejo, DI Yogyakarta dan Samudera Hindia selatan Jawa Tengah.
Fenomena gelombang tinggi masih berpotensi terjadi hingga esok hari, BNPB turut mengimbau kepada masyarakat khususnya yang tinggal di pesisir pantai selatan Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Barat agar menjauhi bibir pantai dan tidak beraktivitas di sepanjang garis pantai untuk sementara.***(edy)