Thursday, April 03, 2025
Home > Berita > Gempa Tidak Membunuh, Oleh Djunaedi Tjunti Agus

Gempa Tidak Membunuh, Oleh Djunaedi Tjunti Agus

Gempa yang melanda Cianjur, Jawa Barat kembali mengingatkan bahwa negeri kita rawan gempa. Indonesia merupakan daerah rawan gempa bumi karena dilalui oleh jalur pertemuan 3 lempeng tektonik. Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Merujuk pada keilmuan, seperti dilansir dari situs NASA, gempa terjadi karena kulit bumi yang bergeser. Lapisan permukaan bumi bernama litosfer terdiri dari susunan lempeng tektonik.

Lempeng tektonik di bumi tersebut bergerak terus menerus sepanjang waktu. Setidaknya ada delapan lempeng aktif di bumi, sbb; Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke arah utara,  Lempeng Pasifik yang bergerak ke arah barat,  Lempeng Amerika Utara yang bergerak ke arah barat laut,  Lempeng Amerika Selatan yang bergerak ke arah barat,  Lempeng Antartika yang bergerak ke arah barat,  Lempeng Nazca yang bergerak ke arah timur,  Lempeng Eurasia yang bergerak ke arah tenggara, Lempeng Afrika yang bergerak ke arah timur. Lempeng-lempeng tersebut saling menjauh atau bertabrakan.

Nah, Indonesia terletak di tiga lempeng aktif yakni Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik (Wikimedia). Itu membuat sebagian besar negeri ini rawan terjadinya gempa bumi.

Namun gempa dengan magnitudo 5,6 yang terjadi Senin (21/11) lalu di Cianjur, Jawa Barat,  dinilai tidak membunuh. Menyimak penjelasan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, gempa secara umum tidak membunuh dan melukai. Namun bangunanlah yang membunuh dan melukai manusia.

Beliapun menghimbau masyarakat Cianjur yang bermukim di daerah lereng-lereng perbukitan dan di lembah atau bantaran sungai untuk waspada. Menurut dia, besar kemungkinan lereng-lereng perbukitan di Cianjur menjadi rapuh usai terjadinya gempa bumi dan diperparah dengan tingginya intensitas hujan yang berpotensi mengguyur Cianjur.

Dikatakan, banyaknya korban jiwa dalam peristiwa gempa Cianjur akibat tertimpa bangunan yang tidak mampu menahan guncangan gempa. Kaitan itu, masyarakat diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan gempa bumi, karena dikhawatirkan tidak kuat menopang dan ambruk jika sewaktu-waktu terjadi gempa susulan.

Dwikorita juga mengimbau, saat proses rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan semestinya menggunakan struktur bangunan tahan gempa. Banyaknya korban meninggal dan signifikannya kerusakan yang terjadi pada saat gempa tektonik bermagnitudo 5,6 Cianjur selain akibat gempa dangkal juga akibat struktur bangunan di wilayah terdampak tidak memenuhi standar tahan gempa.

Mayoritas bangunan terdampak, menurut dia, karena dibangun tanpa mengindahkan struktur aman gempa yang menggunakan besi tulangan dengan semen standar. Akibatnya, bangunan tersebut tidak mampu menahan guncangan gempa. Perlu dipahami, katanya, banyaknya korban jiwa dan luka-luka dalam gempabumi Cianjur bukan diakibatkan guncangan gempa bumi, melainkan karena tertimpa bangunan yang tidak sesuai dengan struktur tahan gempa bumi.

Khusus untuk pemukiman warga di daerah lereng-lereng dan perbukitan, menurut Dwikorita, opsi relokasi harus dipertimbangkan pemerintah daerah dan masyarakat. Mengingat berdasarkan analisa yang dilakukan BMKG, gempa di Cianjur merupakan gempa yang berulang setiap 20 tahunan dan kemungkinan dapat terjadi kembali. Sementara, topografi di wilayah lereng dan perbukitan tersebut tidak stabil dengan kondisi tanah yg rapuh atau lunak dan sering jenuh air akibat curah hujan yg cukup tinggi.

Dwikorita juga menyampaikan, saat ini BMKG tengah melakukan survei untuk mengidentifikasi wilayah mana saja yang aman terhadap guncangan gempa. BMKG juga akan memadukan data yang dimiliki dengan Pusat Vulkanologi dan Migas Bencana  Geologi (PVMBG) terkait wilayah rawan gempa dan rawan longsor guna mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi usai gempa bumi.

Iman dan Taqwa

Apa yang dijelaskan Kepala BMKG jelas perlu menjadi perhatian semua pihak, baik pemeritah, terlebih masyarakat di berbagai penjuru Tanah Air. Semua  harus memperhatikan menyiapkan secara maksimal, menjaga segala kemungkinan. Namun selain terkait keilmuan, sebagai umat beragama kita juga wajib menyiapkan diri di sisi keimanan dan ketaqwaan (imtaq).

alat (Pexels.com/RODNAE Productions)

Seperti diketahui, rukun iman ada enam; iman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul utusannya, hari kiamat, serta qadha dan qadar. Iman adalah pembenaran dengan hati, pengakuan dengan lisan, dan amal dengan anggota badan. Sedang taqwa adalah kemampuan seseorang dalam menjalankan segala perintah Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya.

Berkaitan dengan gempa di Cianjur, yang hingga hari ini diketahui menewaskan 272 orang, harus kita imani merupakan qadha dan qadar,  ketetapan Allah sesuai kehendaknya. Sebagai umat muslim kita seharusnya percaya bahwa segala yang terjadi adalah atas kehendak Allah.

Gempa bumi pun dijelaskan dalam Al-Quran. Dalam surat Al Hadid ayat 22, antaranya, disebutkan yang artinya; “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

Sebagai umat beriman  harus percaya bahwa segalanya berasal dari Allah. Segala bencana tersebut bisa jadi sebagai peringatan, atau mungkin saja azab atas kelalaian melaksanakan perintah Allah dan melanggar laranganNya.

Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa Allah mengazab kaum Sodom sangat keras. Menghancurkan umat Nabi Luth itu karena suka berbuat kekejian dan menyukai hubugan sesama jenis. Kaum tersebut  hancur ditimpa batu-batu yang dijatuhkan dari langit.

Azab Allah juga ditimpakan pada kaum Tsamud yang membangkang pada Nabi Saleh. Surat Al-Ankabut Ayat 14 menyebutkan bahwa azab juga diberikan kepada kaum Nabi Nuh  yang durhaka kepada Allah. Mereka ditenggelamkan dalam banjir yang amat dalam. Sejumlah azab lainnya pernah dijatuhkan Allah, termasuk kepada Firaun dan pengikutnya yang membangkan kepada Nabi Musa mengajak beriman kepada Allah.

Tanpa bermaksud menyatakan bencana-bencana yang muncul di Tanah Air, termasuk gempa di Cianjur sebagai peringatan atau azab dari Tuhan, sebaiknya pemerintah juga mengingatkan rakyat agar tidak melupakan kewajiban sebagai umat. Lakukan segala perintah Allah, jauhi segala larangannya.

Selain mengajak rakyat menyiapkan diri menghadapi segala kemungkinan terkait ancama becana secara keilmuan, perlu pula diajak mematuhi kewajiban kepada Allah. Gempa, juga becana-bencana lainnya, tidak bisa membunuh seseorang bila belum saatnya. Kematian Allah yang menentukan. Tidak ada yang tahu kapan seorang anak manusia akan mati.***Djunaedi Tjunti Agus adalah wartawan senior mimbar-rakyat.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru