Thursday, April 03, 2025
Home > Cerita > Kenangan Baik           Catatan Hendry Ch. Bangun

Kenangan Baik           Catatan Hendry Ch. Bangun

Ilustrasi - Jangan pernah melupakan kebaikan orang lain. (tapis.blogger)

Seberapa seringkah kita mengenang kebaikan orang? Lebih banyak mana dibandingkan dengan mengenang keburukan orang?

Manusia, dikatakan lebih mudah mengingat keburukan seseorang ketimbang kebaikannya. Jadi, sudah seperti media yang disebut-sebut berpedoman “bad news is good news”.

Padahal sebenarnya itu tidak sehat untuk otak kita. Mengingat hal yang jelek, tidak enak, malah membuat emosi bertambah, tensi meningkat. Kita jadi berpikiran negatif. Menumbuhkan kembali rasa tidak suka, rasa marah, rasa benci, yang mungkin sudah hilang.

Saya pernah baca, setiap kali berpikiran negatif, sekian ribu sel di otak kita mati, entah benar entah tidak. Sementara kalau kita berpikiran negatif, akan tumbuh sel-sel baru.

Kalau kita mengingat hal baik, reaksi hati pun menjadi senang. Kadang tanpa disengaja pun kita menjadi senyum, tertawa kecil, atau mungkin rasa syukur dan lega. Ya karena ternyata entah karena satu dan lain hal, kita mendapat keberhasilan, kesuksesan, kesenangan, karena dibantu orang lain.

Kita lalu ganti mendoakan orang itu, berharap dia diberi berkah pula atas kebaikannya. Jadi, ada dua kegiatan positif di otak dan perasaan kita kalau mengingat hal baik.

Seperti dinyanyikan Louis Armstrong dalam lagu  What A Wonderful World, semuanya jadi kelihatan baik, dunia berseri-seri, menyenangkan, kalau kita memandang dunia ini dengan kacamata positif.

Wajah orang yang kita temui di jalan seperti tersenyum dan kita tergerak untuk menyapanya. Melihat orang berkumpul, kita membayangkan mereka bicara tentang hal-hal baik. Warna bunga terasa indah. Udara terasa nyaman. Bekerja pun terasa ringan di pikiran dan di tangan. Berjalan jauh tidak terasa.

Tetapi kalau kita sudah suntuk dan membiarkannya, orang yang biasa  saja terasa sombong kalau dia tidak menegur duluan. Ada yang bicara di seberang meja, kita anggap sedang menggosip tentang kita. Waktu terasa lama. Pekerjaan bikin susah hati. Orang berusaha bercanda dengan kita, langsung dianggap menghina.

Maka mengenang kebaikan adalah salah satu cara yang bisa dipakai untuk menggiring otak dan pikiran kita ke arah positif tadi, walaupun mungkin kebaikan yang kita terima lebih sedikit dibandingkan dengan ketidakbaikan sepanjang usia ini.

Pasti sudah banyak kebaikan yang kita terima. Mulai dari masa kanak-kanak, sekolah menengah, saat di  kampus, atau bahkan ketika sudah bekerja. Saya ingat ketika di SMA misalnya saya sering mendapat “uang ekstra” dari tetangga kalau membantu dia untuk suatu keperluan. Itu membuat saya mampu membeli sesuatu, karena uang jajan dari orangtua tidak cukup. Saat kuliah saya diberi uang kursus oleh seorang dosen yang tahu orangtua saya tidak mampu membayar.

Ada teman kuliah yang sering mengajak menginap di rumahnya dan itu artinya saya tidak perlu keluar uang untuk beli makan seperti kalau saya di asrama.

Saya merasa bersyukur karena begitu banyak kelimpahan yang saya terima, sampai sekarang dalam usia yang sudah senja. Di tengah berbagai cobaan dan kesukaran, selalu saja ada yang membantu dengan berbagai cara, yang kadang tidak terduga. Seperti bolak-balik, banyak berterima kasih kepada Sang Pencipta, diberi kelancaran. Dipermudah, lalu bersyukur.

Menginjak tahun 2018 yang kita tidak tahu apakah akan kita jalani sampai selesai atau tidak, saya kira mengingat kebaikan yang sudah kita terima, baik dari sahabat, rekan kerja, rekan di organisasi, tetangga, sanak saudara, dan dari siapapun semoga memberi dampak positif bagi kita.

Kebaikan disalurkan Sang Pencipta melalui orang-orang itu. Begitu juga dengan cobaan yang akan kita terima. Ujian pastilah maksudnya supaya kita sadar bahwa hidup juga tidak akan selalu mudah, harus selalu diperjuangkan, dan agar menguatkan kita menghadapi tantangan berikutnya.

Mari menghadapi masa-masa ke depan dengan sikap positif, dengan enerji positif, agar apa yang kita harapkan bisa tercapai. Selamat Tahun Baru 2018.  ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *