Thursday, April 03, 2025
Home > Featured > Ketika sang naga menganggap kanguru berulah,  Oleh Nuim Khaiyath

Ketika sang naga menganggap kanguru berulah,  Oleh Nuim Khaiyath

Ilustrasi - Australia dan China, perseteruan. (vibiznis.com)

Ternyata China tersinggung berat oleh usul Australia agar dilakukan upaya mandiri oleh mancanegara untuk mencari tahu seluk beluk dan asal usul virus Corona baru.

Demi pembelajaran untuk kepentingan umat manusia di masa depan, begitu kira-kira tujuan Australia. Cuma China ternyata melihatnya dengan kaca mata penuh ketersinggungan. Australia, negara kecil secuil yang terletak nun di ujung selatan tempat jin buang anak, kok berani-beraninya bikin “ulah”.

Duta Besar China untu Australia Cheng Jingye membalas kontan langsung ke jantung Australia.

“Bagaimana kalau sekiranya rakyat China,yang merasa tersingggung oleh maksud Australia itu kemudian memutuskan untuk tidak lagi jalan-jalan ke Australia; atau para mahasiswa China merasa masih banyak sumber lainya untuk menggali ilmu di samping perguruan tinggi Australia; atau para konsumen China merasa kenapa harus minum hanya anggur buatan Australia dan makan hanya daging sapi Australia?” kata Dubes Cheng JIngye dalam wawancara dengan koran ekonomi dan keuangan Australia “The Australian Financial Review”.

Jelas ucapan sang Dubes adalah peringatan keras kepada pemerintah Perdana Menteri Scott Morrison yang sangat menyadari  kedudukan China sebagai importir terbesar berbagai komoditas Australia.

Kata peribahaa Inggeris: “Jangan gigit tangan yang menyuapi engkau.”

Tidak bisa dipungkiri bahwa “demi kemakmurannya” maka Australia memang sangat bergantung pada China.

Statistik-statistik akan menunjukkan sejelas-jelasnya bagaimana China merupakan lawan dagang (menurut guru bahasa Indonesia saya seperti Mozasa dan Sabaruddin Ahmad,  kalau Anda membeli sesuatu dari saya Anda bukan kawan melainkan lawan dagang saya – jual lawannya adalah beli) terbesar Australia.

Bahan ekspor utama Australia ke China adalah biji besi dan batu bara senilai lebih dari $120 miliar (dolar Australia) setahun – sebanding 30% dari semua ekspor Australia ke luar negeri (Badan Siaran Australia – ABC).

Bukan itu saja, melainkan juga Australia memasok “jasa-jasa pendidikan” senilai $32,4 miliar, sama seperti 8% dari seluruh ekspor negara ini (pemasukan ini bersumber dari para mahasiswa China yang menuntut ilmu di Australia).

Banyak lagi bahan-bahan baku dan jasa-jasa pelayanan yang dipetik China dari Australia.

Dalam kurun waktu 2017-18, China merupakan lawan dagang terbesar Australia yang menyumbangkan $194,6 miliar dolar dalam impor-ekspor. Jumlah ini lebih besar dari gabungan nilai perdagangan Australia  di satu pihak, dengan  Amerika Serikat dan Jepang yang mencapai “hanya” $147,8 miliar (ABC).

Rata-rata 1,4 juta turis dari China saban tahun berkunjung ke Australia dan menghabiskan uang sampai 12 miliar dolar selama di Australia.

Jadi China memang paham dan sadar sekali di mana letak titik terlemah Australia dalam hubungannya dengan China.

Bukan itu saja,  Dubes China Cheng Jingye juga menganggap “berbahaya” sesuatu penyelidikan seperti yang diusulkan Australia dan memprakirakan bahwa usul tersebut niscaya akan gagal total karena tidak bakalan mendapat dukungan mancanegara.

Dikatakannya, mengusung syak wasangka, mencari-cari kesalahan atau memecah belah pada waktu sekritis seperti sekarang ini hanya akan merongrong upaya global untuk memerangi pandemi COVID-19.

Dubes Cheng juga menolak bahwa virus tersebut berasal dari pasar basah di Wuhan, dan mengemukakan bahwa sampai kini masih belum jelas sumber asal usulnya.

Di pihaknya PM Australia Scott Morrison telah menyampaikan gagasannya itu kepada sejumlah pemimpin dunia, termasuk Presiden Amerika Donald Trump, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Barat Angela Merkel dan sejumlah lainnya.

Para pemimpin Eropah nampaknya lebih tekun untuk melawan COVID-19 daripada mencari lawan baru, dalam hal ini China.

Dubes Cheng mengatakan tidak ada negara yang sempurna dalam menangani pandemi yang separah COVID-19.

Ia menuding bahwa usul Australia itu tidak lain adalah suatu bentuk kepatuhan pada ulah yang sebelumnya dikemukakan Amerika.

Rakyat China frustrasi, kecewa dan bahkan sedih mendengar usul Australia itu, kata Dubes Cheng.

Australia di pihaknya menganggap ucapan Dubes Cheng sebagai ancaman yang dibalut sutera tipis.

Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Australia menelpon Dubes Cheng untuk menyampaikan  pandangan Australia bahwa ucapan Dubes Cheng adalah suatu bentuk “tekanan penuh kekerasan” dan ancaman terhadap Australia. Australia tidak bersedia ditekan dan diancam.

Dalam membela dirinya ternyata Kedutaan Besar China di Australia tidak mempedulikan basa basi diplomatis. Pembicaraan telepon seperti di atas yang biasanya menjadi hal “tahu sama tahu” hanya antara kedua pihak, kali ini oleh China diungkapkan kepada publik di Australia.

Kata sementara pengamat di Australia, bukan saja mengungkapkan isi pembicaraan telepon itu kepada publik melainkan juga China melakukannya dengan nada yang mengejek.

Menurut Kedutaan Besar Cina di Australia, Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Australia, dalam pembicaraan telepon tersebut, berusaha sekuat tenaga bukan saja untuk membela usul penyelidikan itu, melainkan juga mengakui bahwa sekarang bukanlah waktunya untuk memulai peninjauan dan bahwa Australia tidak punya rincian untuk diajukan.

Membocorkan rincian pembicaraan telepon “pribadi’ seperti memang rasanya bukanlah sesuatu yang luar biasa, namun dalam tata karama dunia politik luar negeri, itu, kata sebuah media, sama saja artinya seperti melemparkan sebuah granat kecil.

 

Pembicaraan pribadi

Tanpa adanya rasa saling mempercayai, diplomasi dapat kiranya dengan cepat menjadi berantakan. Para diplomat harus yakin bahwa pembicaraan pribadi akan tetap menjadi rahasia, agar di masa mendatang kedua pihak dapat berbicara secara terus terang.

Rasa saling mempercayai antara China dan Australia kini tampaknya telah menguap.

Sejumlah pengamat tentang China di Australia menduga bahwa hubungan antara China dan Australia kini telah anjlok ke titik terendah sejak hubungan diplomatik dijalin dalam tahun 1972.

Tujuan membocorkan pembicaraan telepon itu sudah jelas, kata para pengamat, bahwa Beijing bertekad melakukan segalanya yang mungkin untuk merongrong upaya pemerintah Australia agar dilakukan penyelidikan mandiri terhadap berjangkitnya wabah COVID-19, baik pada tataran mancanegara mau pun di Australia.

Dengan mengungkapkan tentang pengakuan bahwa Australia masih belum punya rincian tentang peninjauan dimaksud dan tentang kapan peninjauan seperti itu harus dilakukan, Beijing ingin mengesankan bahwa usul peninjauan itu masih setengah matang, dan lebih merupakan manuver politik ketimbang usul yang sungguh-sungguh.

Kesimpulannya, hati-hatilah kalau berhadapan dengan China. Tahu dirilah! China sekarang ini sudah merupakan raksasa yang mulai menggeliatkan otot-ototnya. Wallahu a’lam. (Nuim Khaiyath dari Melbourne/arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru