Gundukan tanah itu disulap menjadi panggung indah, dihiasi lapis apik berlangit tenda merah putih berpernik nuansa merah putih pula di sekelilingnya.
Kursi hijau berjejer di depan dan samping panggung, ditempati penduduk setempat, umumnya para ibu dan bocah yang seolah tidak sabar membawakan atraksi nyanyi dan tarian. Sebagian mulai uring-uringan ingin secepatnya menerima hadiah juara lomba.
Di samping panggung sesekali gemericik suara air kali yang mengalir pelan membelah ngarai. Angin berdesau di bagian kiri panggung atau sebelah kanan tempat duduk pak rt, rw dan tokoh masyarakat. Pohonan bambu yang berjejer bergoyang-goyang seperti menari, sementara irama suara jengkerik melantunkan irama tertentu, kendati malam baru membalut petang. Syukurlah tidak hujan.
“Merdekaa!!..Merdekaa!!..Merdeka!!,” panggung di alam terbuka itu seakan gemuruh ketika Abah Herman meneriakkan kata keramat itu di atas panggung, Sabtu (20/8-22), diikuti suara masyarakat yang mengulanginya, sembari mengepalkan tinju ke udara.
Abah Herman, tokoh masyarakat di wilayah itu yang juga sebagai tokoh seni-budaya dan pelatih silat, yang usianya memasuki 82 tahun, lantang teriakannya dan jelas diksinya ketika mengatakan,”Kita jangan melupakan peristiwa bersejarah ini.”
“Para leluhur kita penuh dengan semangat, menggunakan bambu runcing ketika merebut kemerdekaan Indonesia. Kita harus tetap semangat. Setidaknya kita mewariskan semangat besar itu kepada anak cucu kita,” kata Abah.
Robi Cahyadi, ketua panitia penyelenggara acara peringatan Proklamasi ke-77 RI 17 Agustus 2022 di Klaster E Perumahan Puri Arraya, Cicadas, Bogor, mengatakan pembangunan panggung dari tanah itu sudah lama ditata masyarakat setempat.
“Tiap Sabtu Minggu kita adakan kerja bakti membangun panggung ini. Kelihatannya jadi semi permanen. Lumayan lah, bisa kita gunakan untuk acara-acara lain,” kata Robi ketika mengurai kiprah para “bapak dan ibu muda” yang bermukim di wilayah itu.

Ia menambahkan, berbagai lomba yang diadakan, diikuti mulai dari kanak-kanak hingga orang dewasa, sudah berlangsung dalam dua minggu terakhir. “Meriah sekali dan bersemangat. Penduduk di sini amat guyub, bahkan juga dengan tetangga di desa sebelah,” katanya, menyinggung Pak RW Acang yang bermukim di desa Setu yang bersebelahan dan hadir dalam acara itu. Ketua RT05 Murtono malam itu mendampingi Pak RW.
Semangat
Ya semangat. Kalau tidak dibarengi semangat tinggi, “pesta” kemerdekaan itu tidak akan terwujud. Rasa semangat lah yang mewarnai gairah gerakan merah putih yang bergelantung dan berkibar di mana-mana. Di gedung bertingkat, di kawasan perumahan, di sekolah-sekolah dan perkantoran, di dasar laut dan di puncak gunung, hingga ke kawasan kumuh tempat pengumpulan sampah.
Makna proklamasi? Tergantung dari sisi mana memandangnya, dari dimansi apa melihatnya. Sebuah makna ada tergantung atau terletak dimana-mana atau bahkan mungkin sudah tidak ada di mana-manam kecuali bila dicari.

Bertanyalah apa saja kepada siapa saja, Makna proklamasi tak mungkin duwujudkan tunggal dalam pemikiran sekian banyak orang pada malam khusus tasyakkuran hari Kemerdekaan RI, Tapi mengisi kemerdekaan di antaranya adalah dengan bertanya, agar mampu kelak mempertahankannya.
Tanya pada para bocah, misalnya, apa itu merah putih, kok merah putih ada dimana-mana. Pada abangnya bocah itu tanyakan apa arti proklamasi dan pada abangnya lagi tanyakan apa isi teks proklamasi.
Tanya pada isteri, apa menurutmu arti proklamasi, apa yang ada dalam pikiranmu mendengar kata kemerdekaan. Kemudian tanya pada diri kita sendiri, apa filosofi kemerdekaan yang akan saya terapkan dalam kehidupan rumah tangga saya, Sembari membayangkan bambu runcing yang masih basah merah ujungnya, serta lubang yang masih menganga di tepi dapur sebagai tempat berlindung dari bom penjajah. Betapa ngerinya hari-hari, jam-jam dan detik-detik waktu yang dialami orang jaman doeloe. Kita seolah merasakan masa lalu itu, kendati tidak merasakan!
Minimal bertanyalah pada diri sendiri dalam mengisi kemerdekaan setiap tahun, merupakan masukan yang dapat disampaikan kepada teman dan anggota keluarga kita, selain tentu saja berusaha menebalkan rasa semangat lewat berbagai lomba yang diadakan.
Perlombaan di mana pun adalah ekspresi dari semangat dan persatuan. Pertanyaan dan jawaban tentang filosofi proklamasi, juga adalah inti dari semangat dan usaha untuk bersatu dalam merawat persatuan. Dimana pun, tak terkecuali, termasuk di sebidang panggung tanah yang di atasnya gemuruh dengan dengung Merdeka .. Merdeka..sembari kepalan meninju udara, di Puri Arraya di Ciampea. (ar loebis)